Berita hari ini

Loading...

Jumat, 24 September 2010

Cinta Kasih Terhadap Orang Tua

CINTA TERHADAP ORANG TUA
2.1 Pengertian
Cinta merupakan anugerah Allh SWT yang ada pada diri manusia sejak ia lahir, sebagaimana firman Allah  SWT di dalam QS At Taubah ayat 24:
“Katakanlah, jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, sanak keluarga, harta yang telah kamu usahakan, perniagaan yang kamu takuti kerugiannya dan tempat-tempat tinggal yang kamu sukai, itu semua lebih kamu cintai daripada Allah, Rasul-Nya serta melaksanakan jihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan urusan-Nya (azab-Nya). Dan Allah sekali-kali tidak akan menunjuki orang-orang yang fasik.” (QS At-Taubah ayat 24)
Dari ayat diatas merupakan manajemen cinta menurut Islam dimana skala prioritasnya sangat jelas yaitu skala yang pertama adalah cinta pada Allah (mahabbatullah), selanjutnya cinta pada rasul (mahabbaturrasul), kemudian diikuti cinta pada jihad (mahabbatujjihad), setelah itu barulah cinta akan keluarga, harta, dan hal-hal yang bersifat materi dan duniawi.
Dari penjelasan di atas berarti cinta terhadap orang tua merupakan cinta setelah cinta kepada Allah dan Rasulullah sehingga pengertian cinta terhadap orang tua itu sendiri bagaiman kita sebagai soerang anak bersikap baik dan mematuhi perintahnya dan tidak durhaka kepadanya.
2.2 Sikap Orang Tua Terhadap Anak
Anak merupakan buah hasil dari kuatnya kasih dan sayang suami dan istri dimana Allah SWT telah menumpahkan rahmat-Nya sehingga keuduanya di titipkan seorang anak yang ikatan tersbut sangatlah kuat. Tuhan juga telah memelihara dan menjamin kekuatan hubungan tersebut dan berkembang sebagai upaya menjaga kelangsungan hidup manusia. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Ar-Rum ayat 21:
Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu Istri- istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepada- nya dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih sayang.” (QS. Ar-Rum: 21)
Dalam ayat di atas di jelaskan mukjizat dan bukti kekuasaan Allah SWT menciptakan jodoh-jodoh kamu dari jenismu ( manusia ) bukan dari jenis Malaikat dan Jin agar kamu dapat membentuk keluarga yang dilingkupi dengan rasa ketenangan dan ketentraman jiwa, karena ketenangan itu tidak akan tercipta tanpa adanya cinta asmara kedua belah pihak dan cinta inipun tidak sempurna apabila tidak dibarengi rasa kasih sayang termasuk harga-menghargai dan hormat-menghormati hak masing-masing.
Mengenai ikatan keluarga yang sakinah dimana keluarga harus dibina bersama orang tua, anak dan dalam hati orang tua tersebut terdapat cinta terhadap anak-anaknya yang tak pernah putus yang merupakan pemberian dari Allah SWT.
Nabi Muhammad SAW pernah bertanya kepada para sahabat:
Dapatkah kau bayangkan bahwa wanita ini kelak melemparkan anaknya ke dalam api”. Sahabat menjawab: tidak. dan Nabi bersabda lagi:”kasih sayang Tuhan kepada hamba-Nya lebih kuat daripada kasih sayang wanita kepada anaknya”(Hadist Syarif).
Selain hadist itu Allah SWT berfirman dalam QS Al.-Baqarah ayat 187 :
bahwa istri dan suami itu merupakan ”pakaian”, pakaianitu berfungsi melindungi badan dari rasa panas dan dingin.”(QS. Al-Baqarah : 187)
Untuk itu suami dapat melindungi istri dan saling mendukung dalam beberbagai hal serta transparan dalam perbuatan-perbuatan masing-masing. Dan tidak saling menjatuhkan, terutama menjatuhkan nama baik masing-masing. Dari hadis dan firman Allah SWT dapat diambil kesimpulan bahwa apabila orang tua mampu mendidik anak-anaknya sesuai dengan hadist Nabi dan Al-Qur’an maka anak tersebut jadi anak yang baik karena orang tua adalah “panutan anak atau merupakan pendidik utama selain dari guru di sekolah”.
Cinta tersebut merupakan bentuk yang alami dan ada sejak lahir yang tidak dapat dipadamkan oleh siapa pun sehingga dengan alasan inilah maka Allah SWT memerintahkan agar orang tua menjaga anak-anaknya yang merupakan titipan dari Allah SWT seperti hal nya hadist Rasulullah SAW : “Kullu mauluuddin yuuladu ‘alal fitrah”. Yang artinya : anak lahir kedunia ini adalah suci bersih,
Selain hadist di atas kita dapat mengambil pelajaran dari kisah Rasulullah SAW yang sangat penyayang terhadap anak-anak, baik terhadap keturunan beliau sendiri ataupun anak orang lain. Abu Hurairah r.a. meriwayatkan :
bahwa suatu ketika Rasulullah SAW mencium Hasan bin Ali dan didekatnya ada Al-Aqra’ bin Hayis At-Tamimi sedang duduk. Ia kemudian berkata, “Aku memiliki sepuluh orang anak dan tidak pernah aku mencium seorang pun dari mereka.” Rasulullah SAW segera memandang kepadanya dan berkata, “Man laa yarham laa yurham, barangsiapa yang tidak mengasihi, maka ia tidak akan dikasihi.” (HR. Bukhari di Kitab Adab, hadits nomor 5538).
Bahkan dalam shalat pun Rasulullah SAW tidak melarang anak-anak dekat dengan beliau. Hal ini kita dapat dari cerita Abi Qatadah :
“Suatu ketika Rasulullah SAW mendatangi kami bersama Umamah binti Abil Ash –anak Zainab, putri Rasulullah SAW Beliau meletakkannya di atas bahunya. Beliau kemudian shalat dan ketika rukuk, Beliau meletakkannya dan saat bangkit dari sujud, Beliau mengangkat kembali.” (HR. Muslim dalam Kitab Masajid wa Mawadhi’ush Shalah, hadits nomor 840).
Abdullah bin Syaddad juga meriwayatkan dari ayahnya bahwa :
Ketika waktu datang shalat Isya, Rasulullah SAW datang sambil membawa Hasan dan Husain. Beliau kemudian maju (sebagai imam) dan meletakkan cucunya. Beliau kemudian takbir untuk shalat. Ketika sujud, Beliau pun memanjangkan sujudnya. Ayahku berkata, Saya kemudian mengangkat kepalaku dan melihat anak kecil itu berada di atas punggung Rasulullah saw. yang sedang bersujud. Saya kemudian sujud kembali, Setelah selesai shalat, orang-orang pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, saat sedang sujud di antara dua sujudmu tadi, engkau melakukannya sangat lama, sehingga kami mengira telah terjadi sebuah peristiwa besar, atau telah turun wahyu kepadamu.’ Beliau kemudian berkata, ‘Semua yang engkau katakan itu tidak terjadi, tapi cucuku sedang bersenang- senang denganku, dan aku tidak suka menghentikannya sampai dia menyelesaikan keinginannya.” (HR. An-Nasai dalam Kitab At-Thathbiq, hadits nomor 1129).
Usamah bin Zaid ketika masih kecil punya kenangan manis dalam pangkuan Rasulullah SAW :
Rasulullah SAW pernah mengambil dan mendudukkanku di atas pahanya, dan meletakkan Hasan di atas pahanya yang lain, kemudian memeluk kami berdua, dan berkata, ‘Ya Allah, kasihanilah keduanya, karena sesungguhnya aku mengasihi keduanya.” (HR. Bukhari dalam Kitab Adab, hadits nomor 5544). Begitulah Rasulullah SAW bersikap kepada anak-anaknya. Secara halus Beliau mengajarkan kepada kita untuk memperhatikan anak-anaknya. Beliau juga mencontohkan dalam praktiknya bagaimana kita harus bersikap kepada anak dengan penuh cinta, kasih, dan kelemah lembutan.
2.2 Kejahatan orang tua terhadap anak.
Setiap sikap yang berbeda dengan sikap yang telah ditunjukan atau yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW merupakan kejahatan orang tua terhadap anak-anaknya.
Adapaun kejahatan orang tua terhadap anak-anaknya antara lain :
1. Memaki dan menghina anak
Bagaimana orang tua dikatakan menghina anak-anaknya? Yaitu ketika seorang ayah menilai kekurangan anaknya dan memaparkan setiap kebodohannya. Lebih jahat lagi jika itu dilakukan di hadapan teman-teman si anak. Termasuk dalam kategori ini adalah memberi nama kepada si anak dengan nama yang buruk.
Seorang lelaki penah mendatangi Umar bin Khattab seraya mengadukan kedurhakaan anaknya. Umar kemudian memanggil putra orang tua itu dan menghardiknya atas kedurhakaannya. Tidak lama kemudan anak itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, bukankah sang anak memiliki hak atas orang tuanya?
Betul jawab umar.
Apakah hak sang anak?
Memilih seorang ibu yang baik untuknya, memberikan nama yang baik mengajarkan Al-Qur’an, jawab Umar
Kemudian anak itu berkata, wahai Amirul Mukminin sesunguhnya ayah ku tidak melakukan satu pun yang telah engkau sebutkan dan ibuku ibuku ia adalah wanita berkulit hitam bekas hamba sahaya orang majusi, ia memberi aku nama Ju’lan (kumbang), dan tidak mengajariku satu huruf pun dari Al-Qur’an.
Umar segera memandang orang tua itu dan berkata kepadanya, Engkau datang untuk mengadukan kedurhakaan anakmu, padahal engkau telah durhaka kepadanya sebelum ia mendurhakaimu. Engkau telah berbuat buruk kepadanya sebelum ia berbuat buruk kepadamu.
Rasulullah SAW sangat menekankan agar kita memberi nama yang baik kepada anak-anak kita. Abu Darda, meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama ayah kalian, maka perbaikilah nama kalian.” (HR. Abu Dawud dalam Kitab Adab, hadits nomor 4297).
Karena itu Rasulullah SAW kerap mengganti nama seseorang yang bermakna jelek dengan nama baru yang baik atau mengganti julukan-julukan yang buruk kepada seseorang dengan julukan yang baik dan bermakna positif, Misalnya, Harb (perang) menjadi Husain, Huznan (yang sedih) menjadi Sahlun (mudah), Bani Maghwiyah (yang tergelincir) menjadi Bani Rusyd (yang diberi petunjuk). Rasulullah SAW memanggil Aisyah dengan nama kecil Aisy untuk memberi kesan lembut dan sayang.
Jadi, adalah sebuah bentuk kejahatan bila kita memberi dan memanggil anak kita dengan sebutan yang buruk lagi dan bermakna menghinakan dirinya.
2. Melebihkan seorang anak dari yang lain
Memberi lebih kepada anak kesayangan dan mengabaikan anak yang lain adalah bentuk kejahatan orang tua kepada anaknya. Sikap ini adalah salah satu faktor pemicu putusnya hubungan silaturrahmi anak kepada orang tuanya dan pangkal dari permusuhan antar saudara.
Nu’man bin Basyir bercerita, “Ayahku menginfakkan sebagian hartanya untukku. Ibuku–Amrah binti Rawahah-kemudian berkata, Saya tidak suka engkau melakukan hal itu sehingga menemui Rasulullah SAW. Ayahku kemudian berangkat menemui Rasulullah SAW, sebagai saksi atas sedekah yang diberikan kepadaku. Rasulullah SAW, berkata kepadanya, ‘Apakah engkau melakukan hal ini kepada seluruh anak-anakmu? Ia berkata, ‘Tidak’ Rasulullah SAW, berkata, ‘Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah kepada anak-anakmu. Ayahku kemudian kembali dan menarik lagi sedekah itu.” (HR. Muslim dalam Kitab Al-Hibaat, hadits nomor 3055).
Dan puncak kezaliman kepada anak adalah ketika orang tua tidak bisa memunculkan rasa cinta dan sayangnya kepada anak perempuan yang kurang cantik, kurang pandai, atau cacat salah satu anggota tubuhnya. Padahal, tidak cantik dan cacat bukanlah kemauan si anak. Apalagi tidak pintar pun itu bukanlah dosa dan kejahatan. Justru setiap keterbatasan anak adalah pemacu bagi orang tua untuk lebih mencintainya dan membantunya. Rasulullah SAW bersabda : “Rahimallahu waalidan a’aana waladahu ‘ala birrihi, semoga Allah mengasihi orang tua yang membantu anaknya di atas kebaikan.” (HR. Ibnu Hibban)
3. Mendoakan keburukan bagi si anak
Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Tsalatsatu da’awaatin mustajaabaatun: da’watu al-muzhluumi, da’watu al-musaafiri, da’watu waalidin ‘ala walidihi; Ada tiga doa yang dikabulkan: doa orang yang teraniaya, doa musafir, dan doa (keburukan) orang tua atas anaknya.”(HR. Tirmidzi dalam Kitab Birr wash Shilah, hadits nomor 1828)
Apakah alasan yang membuat seseorang begitu membenci anaknya, Begitu bencinya, seorang ibu bisa sepanjang hari lidahnya tidak kering mendoakan agar anaknya celaka, melaknat dan memaki anaknya. Sungguh, ibu itu adalah wanita yang paling bodoh. Setiap doanya yang buruk, setiap ucapan laknat yang meluncur dari lidahnya, dan setiap makian yang diucapkannya bisa terkabul lalu menjadi bentuk hukuman bagi dirinya atas semua amal lisannya yang tak terkendali.
Seseorang pernah mengadukan putranya kepada Abdullah bin Mubarak. Abdullah bertanya kepada orang itu, “Apakah engkau pernah berdoa (yang buruk) atasnya.” Orang itu menjawab, “Ya.” Abdullah bin Mubarak berkata, “Engkau telah merusaknya.”
Na’udzubillah! Semoga kita tidak melakukan kesalahan seperti yang dilakukan orang itu. Bayangkan, doa buruk bagi anak adalah bentuk kejahatan yang akan menambah rusak si anak yang sebelumnya sudah durhaka kepada orang tuanya.
4. Tidak memberi pendidikan kepada anak
Ada syair Arab yang berbunyi, “Anak yatim itu bukanlah anak yang telah ditinggal orang tuanya dan meninggalkan anak-anaknya dalam keadaan hina. Sesungguhnya anak yatim itu adalah yang tidak dapat dekat dengan ibunya yang selalu menghindar darinya, atau ayah yang selalu sibuk dan tidak ada waktu bagi anaknya.”
Bentuk perhatian yang tertinggi orang tua kepada anaknya adalah memberikan pendidikan yang baik. Tidak memberikan pendidikan yang baik dan maksimal adalah bentuk kejahatan orang tua terhadap anak. Dan segala kejahatan pasti berbuah ancaman yang buruk bagi pelakunya.
Perintah untuk mendidik anak adalah bentuk realisasi iman. Perintah ini diberikan secara umum kepada kepala rumah tangga tanpa memperhatikan latar belakang pendidikan dan kelas sosial. Setiap ayah wajib memberikan pendidikan kepada anaknya tentang agamanya dan memberi keterampilan untuk bisa mandiri dalam menjalani hidupnya kelak. Jadi, berilah pendidikan yang bisa mengantarkan si anak hidup bahagia di dunia dan bahagia di akhirat.
Perintah ini diberikan Allah SWT dalam bentuk umum :
“Hai orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)
Adalah sebuah bentuk kejahatan terhadap anak jika ayah-ibu tenggelam dalam kesibukan, sehingga lupa mengajarkan anaknya cara shalat. Meskipun kesibukan itu adalah mencari rezeki yang digunakan untuk menafkahi anak-anaknya. Jika ayah-ibu berlaku seperti ini, keduanya telah melanggar perintah Allah di surat Thaha ayat 132. “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.”(QS. Thaha : 132)
Rasulullah SAW bersabda :
“Ajarilah anak-anakmu shalat saat mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (bila tidak melaksanakan shalat) pada usaia sepuluh tahun.” (HR. Tirmidzi dalam Kitab Shalah, hadits nomor 372).
Ketahuilah, tidak ada pemberian yang baik dari orang tua kepada anaknya, selain memberi pendidikan yang baik. Begitu hadits dari Ayyub bin Musa yang berasal dari ayahnya dan ayahnya mendapat dari kakeknya bahwa Rasulullah saw. bersabda :
Maa nahala waalidun waladan min nahlin afdhala min adabin hasanin, tak ada yang lebih utama yang diberikan orang tua kepada anaknya melebihi adab yang baik.” (HR. Tirmidzi dalam Kitab Birr wash Shilah, hadits nomor 1875. Tirmidzi berkata, “Ini hadits mursal.)
maka tugas pertama kedua orang tua harus berusaha dengan berbagai macam cara untuk mendidik, mengasuh langsung atau melalui pendidikan taman pendidikan untuk menjaga kesucian agar tidak dikotori oleh pergaulan yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadist.
2.3 Sikap seorang anak terhadap orang tua
Selain kita memperoleh hak atas orang tua kita, kita juga diperintahkan oleh Allah SWT untuk berbakti kepada orang tua kita seperti hadist Rasulullah SAW: “Aljannatu tahta aqdaamil ummahaat “ artinya “bahwa surga itu berada dibawah telapak kaki ibunya” Selain dari hadist tersebut Allah SWT juga berfirman dalam Qur’an Surah Lukman ayat 14
Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapak, ibu yang telah mengandung dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah dan mnyampihna dalam dua tahun. Besyurkurlah kepada-KU dan kepada ke dua orang tua mu dan kepada-KU lah kamu kembali.”(QS. Lukman : 14)
Berbakti kepada orang tua tidak lepas dari bagaimana kita berbuat baik dan tidak durhaka kepadanya. Mungkin, sebagian orang merasa lebih ‘tertusuk’ hatinya bila disebut ‘anak durhaka’, ketimbang digelari ‘hamba durhaka’. Bisa jadi, itu karena ‘kedurhakaan’ terhadap Allah, lebih bernuansa abstrak, dan kebanyakannya, hanya diketahui oleh si pelaku dan Allah saja. Lain halnya dengan kedurhakaan terhadap orang tua, yang jelas amat kelihatan, gampang dideteksi, diperiksa dan ditelaah, sehingga lebih mudah mengubah sosok pelakunya di tengah masyarakat, dari status sebagai orang baik menjadi orang jahat.
Pola berpikir seperti itu, jelas tidak benar, karena Allah menegaskan dalam firman-Nya:
“Allah telah menetapkan agar kalian tidak beribadah melainkan kepada-Nya; dan hendaklah kalian berbakti kepada kedua orang tua.” (Al-Israa : 23)
Penghambaan diri kepada Allah, jelas harus lebih diutamakan karena manusia diciptakan memang hanya untuk tujuan itu. Namun, ketika Allah SWT ‘menggandengkan’ antara kewajiban menghamba kepada-Nya, dengan kewajiban berbakti kepada orang tua, hal itu menunjukkan bahwa berbakti kepada kedua orang tua memang memiliki tingkat kepentingan yang demikian tinggi, dalam Islam. Kewajiban itu demikian ditekankan, sampai-sampai Allah menggandengkannya dengan kewajiban menyempurnakan ibadah kepada-Nya.
2.5 Bukti-bukti pentingnya berbakti kerpada orang tua
Berbakti kepada orang tua merupakan persoalan penting, adapun bukti-bukti pentinganya berbakti kepada orang tau antara lain:
1. Allah ‘menggandengkan’ antara perintah untuk beribadah kepada-Nya, dengan perintah berbuat baik kepada orang tua, sebagaimana dalam QS. Al-Israa ayat 23 :
“Allah telah menetapkan agar kalian tidak beribadah melainkan kepada-Nya dan hendaklah kalian berbakti kepada kedua orang tua.” (QS. Israa : 23)
2. Allah memerintahkan setiap muslim untuk berbuat baik kepada orang tuanya, meskipun mereka kafir, sebagaimana dalam QS. Luqmaan ayat 15 :
“Kalau mereka berupaya mengajakmu berbuat kemusyrikan yang jelas-jelas tidak ada pengetahuanmu tentang hal itu, jangan turuti; namun perlakukanlah keduanya secara baik di dunia ini.” (QS. Lukman : 15)
adapun penjelasan dari Imam Al-Qurthubi mengenai ayat di atas yaitu memelihara hubungan baik dengan orang tua, meskipun dia kafir. Yakni dengan memberikan apa yang mereka butuhkan. Bila mereka tidak membutuhkan harta, bisa dengan cara mengajak mereka masuk Islam.
3. Berbakti kepada kedua orang tua adalah jihad.
Sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Abdullah bin Amru bin Ash bahwa ada seorang lelaki meminta ijin berjihad kepada Rasulullah SAW. Beliau bertanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Lelaki itu menjawab, “Masih.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, berjihadlah dengan berbuat baik terhadap keduanya.” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)
4. Taat kepada orang tua adalah salah satu penyebab masuk Surga.
Sabda Rasulullah SAW, “Sungguh kasihan, sungguh kasihan, sungguh kasihan.” Salah seorang Sahabat bertanya, “Siapa yang kasihan, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang sempat berjumpa dengan orang tuanya, kedua-duanya, atau salah seorang di antara keduanya, saat umur mereka sudah menua, namun tidak bisa membuatnya masuk Surga.” (Riwayat Muslim)
Selain yang Rasullah SAW juga bersabada: “Orang tua adalah ‘pintu pertengahan’ menuju Surga. Bila engkau mau, silakan engkau pelihara. Bila tidak mau, silakan untuk tidak memperdulikannya.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan beliau berkomentar,(Hadits shahih dan Riwayat ini juga dinyatakan shahih oleh Al-Albani.) Maksud dari pintu pertengan itu sendiri adalah pintu yang terbaik.
5. Keridhaan Allah, berada di balik keridhaan orang tua.
Keridhaan Allah bergantung pada keridhaan kedua orang tua. Kemurkaan Allah, bergantung pada kemurkaan kedua orang tua.
6. Berbakti kepada kedua orang tua membantu meraih pengampunan dosa.
Dalam sebuah riwayat : Ada seorang lelaki datang menemui Rasulullah SAW sambil mengadu, “Wahai Rasulullah SAW, Aku telah melakukan sebuah perbuatan dosa.” Beliau bertanya, “Engkau masih mempunyai seorang ibu?” Lelaki itu menjawab, “Tidak.” “Bibi?” Tanya Rasulullah lagi. “Masih.” Jawabnya. Rasulullah SAW bersabda, “Kalau begitu, berbuat baiklah kepadanya.
Dari riwayat diatas menunjukan bahwa berbuat baik kepada kedua orang tua, terutama kepada ibu, dapat membantu proses taubat dan pengampunan dosa. Karena bakti kepada orang tua adalah amal ibadah yang paling utama.
7. Berbakti kepada orang tua, membantu menolak musibah.
Bebakti kepada orang tua dapat membantu meonlak musibah sebagaimana ada sebuah kisah yang dapat dipahami ‘tiga orang’ yang terkurung dalam sebuah gua. Masing-masing berdoa kepada Allah dengan menyebutkan satu amalan yang dianggapnya terbaik dalam hidupnya, agar menjadi wasilah (sarana) terkabulnya doa. Salah seorang di antara mereka bertiga, mengisahkan tentang salah satu perbuatan baiknya terhadap kedua orang tuanya, yang akhirnya, menyebabkan pintu gua terkuak, batu yang menutupi pintunya bergeser, sehingga mereka bisa keluar dari gua tersebut. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
8. Berbakti kepada orang tua, dapat memperluas rezki.
Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang ingin rezkinya diperluas, dan agar usianya diperpanjang (dipenuhi berkah), hendaknya ia menjaga tali silaturahim.” (Al-Bukhari dan Muslim)
Berbakti kepada kedua orang tua adalah bentuk perbuatan silaturahim yang paling baik yang bisa dilakukan seorang muslim, karena keduanya adalah orang terdekat dengan kehidupannya.
9. Doa orang tua selalu lebih mustajab.
Seperti sebuah Hadist Al-Bukhari dan Muslim diterangkan sebagaimana sabda Rasulullah SAW, Ada tiga bentuk doa yang amat mustajab, tidak diragukan lagi: Doa orang tua untuk anaknya, doa seorang musafir dan orang yang yang terzhalimi.
10. Harta anak adalah milik orang tuanya.
Ada seorang anak mengadu kepada Rasulullah SAW, Wahai Rasulullah! Ayahku telah merampas hartaku.” Rasulullah bersabda, Engkau dan juga hartamu, kesemuanya adalah milik ayahmu.
11. Jasa orang tua, tidak mungkin terbalas.
Rasulullah SAW bersabda: Seorang anak tidak akan bisa membalas budi baik ayahnya, kecuali bila ia mendapatkan ayahnya sebagai budak, lalu dia merdekakan. (Dikeluarkan oleh Muslim).
12. Durhaka kepada orang tua, termasuk dosa besar yang terbesar.
Dari Abu Bakrah diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Maukah kalian kuberitahukan dosa besar yang terbesar?” Para Sahabat menjawab, “Tentu mau, wahai Rasulullah r.” Beliau bersabda, “Berbuat syirik kepada Allah, dan durhaka terhadap orang tua.” Kemudian, sambil bersandar, beliau bersabda lagi, “..ucapan dusta, persaksian palsu..” Beliau terus meneruskan mengulang sabdanya itu, sampai kami (para Sahabat) berharap beliau segera terdiam. (Al-Bukhari dan Muslim)
13. Orang yang durhaka terhadap orang tua, akan mendapatkan balasan ‘cepat’ di dunia, selain ancaman siksa di akhirat.
Rasulullah SAW bersabda, “Ada dua bentuk perbuatan dosa yang pasti mendapatkan hukuman awal di dunia: Memberontak terhadap pemerintahan Islam yang sah, dan durhaka terhadab orang tua
Dari ke 13(tiga belas) bukti pentingnya berbakti kepada orang tua sedemikian pentingnya hingga riwayat diatas menjelaskan tentang adab, prilaku dan sikap seorang anak terhadap orang tuanya.
Sebagai seorang anak kita harus berbuat baik dan juga melimpahkan kasih sayang kita kepada mereka sebagaimana yang telah di tuliskan di dalan QS.AL-Ahqaaf ayat 15, QS.An Nisa ayat 36 dan QS.Israa ayat 23 :
“Telah kami pesankan seorang manusia untuk senantiasa berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (Al-Ahqaaf : 15)
“Beribadahlah kepada Allah, jangan menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (An-Nisaa : 36)
……….dan hendaklah kalian berbuat baik kepada kedua orang tua. (Al-Israa : 23)
2.6 Cara memperlakukan orang tua.
Orang tua adalah manusia yang paling berhak mendapatkan dan merasakan budi baik anak-anaknya, dan lebih pantas diperlakukan secara baik oleh si anak, ketimbang orang lain.
Adapun cara seorang anak dalam meperlakukan orang tuanya dengan baik :
1. Bersikaplah secara baik, pergauli mereka dengan cara yang baik pula, yakni dalam berkata-kata, berbuat, memberi sesuatu, meminta sesuatu atau melarang orang tua melakukan suatu hal tertentu.
2. Jangan mengungkapkan kekecewaan atau kekesalan, meski hanya sekadar dengan ucapan ‘uh’. Sebaliknya, bersikaplah rendah hati, dan jangan angkuh.
3. Jangan bersuara lebih keras dari suara mereka, jangan memutus pembicaraan mereka, jangan berhohong saat beraduargumentasi dengan mereka, jangan pula mengejutkan mereka saat sedang tidur, selain itu, jangan sekali-kali meremehkan mereka.
4. Berterima kasih atau bersyukurlah kepada keduanya, utamakan keridhaan keduanya, dibandingkan keridhaan kita diri sendiri, keridhaan istri atau anak-anak kita.
5. Lakukanlah perbuatan baik terhadap mereka, dahulukan kepentingan mereka dan berusahalah ‘memaksa diri’ untuk mencari keridhaan mereka.
6. Rawatlah mereka bila sudah tua, bersikaplah lemahlembut dan berupayalah membuat mereka berbahagia, menjaga mereka dari hal-hal yang buruk, serta menyuguhkan hal-hal yang mereka sukai.
7. Berikanlah nafkah kepada mereka bila memang dibutuhkan. Allah berfirman: Dan apabila kalian menafkahkan harta, yang paling berhak menerimanya adalah orang tua, lalu karib kerabat yang terdekat.” (Al-Baqarah : 215)
8. Mintalah ijin kepada keduanya bila hendak bepergian termasuk untuk melaksanakan haji, kalau bukan haji wajib, demikian juga untuk berjihad, bila hukumnya fardhu kifayah.
9. Mendoakan mereka, seperti disebutkan dalam Al-Qur’an,
“Dan ucapanlah, “Ya Rabbi, berikanlah kasih sayang kepada mereka berdua, sebagaimana menyayangiku di masa kecil.” (Al-Isra : 24)
Dari semua hal di atas bagaimana kita berupaya berbuat baik kepada orang tua karena hak-hak orang tua lebih besar dari hak kita selaku seorang anak bahkan kita tidak mampu membalas kebaikan mereka sebagai orang tua kita, karena berbakti kepada orang tua lebih merupakan perjanjian antara sikap kita dengan keyakinan kita. Kita mengetahuai bahwa mentaati perintah orang tua adalah wajib selama bukan untuk maksiat. Oleh sebab itu, Allah SWT menyebut kewajiban bakti itu sebagai ‘ketetapan’, bukan sekadar ‘perintah’. “Allah telah menetapkan agar kalian tidak beribadah melainkan kepada-Nya; dan hendaklah kalian berbakti kepada kedua orang tua.” (Al-Israa : 23)
Mendurhakai orang tua adalah dosa besar dan durhaka terhadap ibu adalah dosa yang jauh lebih besar lagi sebagai mana sabda Rasulullah SAW :
Rasulullah SAW menyebutkan keharusan berbuat baik kepada ibu sebanyak tiga kali, baru pada kali yang keempat untuk sang ayah, karena kebanyakan sikap durhaka dilakukan seorang anak justru terhadap ibunya.
Rasulullah SAW bersabda:
Sesungguhnya Allah mengharamkan sikap durhaka terhadap ibu dan melarang mengabaikan orang yang hendak berhutang. Allah juga melarang menyebar kabar burung terlalu banyak bertanya dan membuang-buang harta.
Dari hadist di atas kenapa kita diperintahkan untuk berbuat baik sebanyk 3 kali terhadap ibu dan 1 kali kepada ayah Sebab, ibu adalah wanita yang lemah dan bagaimana sang ibu negandung kita selam 9 bulan dengan bigitu banyak rintangan, susah payah tetapi beliau tetap sabar mengadapinya. Sehingga berbuat baik kepada ibu lebih didahulukan daripada berbuat baik kepada seorang ayah, baik itu melalui tutur kata yang lembut, atau limpahan cinta kasih yang mendalam.
Kapan seorang anak dikatakan disebut durhka kepada orang tuanya?seorang anak dikatakn durhaka apabila :
1. Imam Ash-Shan’aani menjelaskan, “Imam Al-Bulqaini menerangkan bahwa arti kata durhaka yaitu: apabila seseorang melakukan sesuatu yang tidak remeh menurut kebiasaan, yang menyakiti orang tuanya atau salah satu dari keduanya.
2. Ibnu Hajar Al-Haitsami menjelaskan, “Kalau seseorang melakukan perbuatan yang kurang adab dalam pandangan umum, yang menyinggung orang tuanya, maka ia telah melakukan dosa besar, meskipun bila dilakukan terhadap selain orang tua, tidaklah dosa.
3. Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan, “Arti durhaka kepada orang tua yaitu melakukan perbuatan yang menyebabkan orang tua terganggu atau terusik, baik dalam bentuk ucapan ataupun amalan.
4. Imam Al-Ghazali menjelaskan, “Kebanyakan ulama berpendapat bahwa taat kepada orang tua wajib, termasuk dalam hal-hal yang masih syubhat, namun tidak boleh dilakukan dalam hal-hal haram. Bahkan, seandainya keduanya merasa tidak nyaman bila makan sendirian, kita harus makan bersama mereka. Kenapa demikian? Karena menghindari syubhat termasuk perbuatan wara’ yang bersifat keutamaan, sementara mentaati kedua orang tua adalah wajib. Seorang anak juga haram bepergian untuk tujuan mubah ataupun sunnah, kecuali dengan ijin kedua orang tua. Melakukan haji secepat-cepatnya bahkan menjadi sunnah, bila orang tua tidak menghendaki. Karena melaksanakan haji bisa ditunda, dan perintah orang tua tidak bisa ditunda. Pergi untuk menuntut ilmu juga hanya menjadi anjuran, bila orang tua membutuhkan kita, kecuali, untuk mempelajari hal-hal yang wajib, seperti shalat dan puasa, sementara di daerah kita tidak ada orang yang mampu mengajarkannya.
Dari penjelasan diatas kita dapat menyadari betapa besar dosa kita apabila kita durhaka terhadap orang tua. Dan berusahalah untuk mendahulukan dan memperhatikan dari segala apa yang kita sukai sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Isra ayat 24 :
Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, “Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (Al-Israa : 24).
2.7 Sikap Anak Saat Orang Tua Telah Berusia Senja dan telah Wafat :
Selain kita dilarang berbuat durhaka kepada orang tua kita juga di perintahkan untuk memperlakukan orang tua kita ketika meraka telah berusia senja dan saat meraka telah wafat dan bagaimana kita meperlakukan meraka :
1. Ketika orang tua telah berusia senja.
Ketika orang tua kita sudah berusia senja di saat seperti itulah bakti kita kepada orang tua suatu hal yang sangat dibutuhkan dan saat itu juga kita akan diuji Allah SWT seberapa besar bakti kita terhadap orang tua kita, firman Allah SWT dalam QS.Al-Isra ayat 23-24 Allah berfiriman :
Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah:”Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (Al-Isra : 23-24)
Saat usia meraka sudah tua, kepekaan merka bertambah sehingga lebih mudah tersinggung bahkan mudah marah jadi tugas kita bagaimana kita menjaga perkataan kita agar tidak membuat meraka tersinggung.
2. Saat orang tua telah wafat
Ada beberapa wujud manefestasi cinta kasih kepada orang tua yang kita lakukan saat meraka telah wafat dimana semuanya merupakan implemntasi cinta kasih kita terhadap orang tua antar lain :
a. Melaksanakan perjanjian dan pesan orang tua.
Bukankah sebelum orang tua kita wafat meraka selalau berpesan kepada kita dan kita selaku seorang anak hendaknya melaksanakan pesan tersebut sebagaimana dari riwayat Syaried bin Suwaid Ats-Tsaqafi, bahwa ia menuturkan, “Wahai Rasulullah! Ibuku pernah berpesan kepadaku untuk memerdekakan seorang budak wanita yang beriman. Aku memiliki seorang budak wanita berkulit hitam. Apakah aku harus memerdekakannya?” “Panggil dia.” Sabda Rasulullah. Saat wanita itu datang, beliau bertanya, “Siapa Rabbmu?” Budak wanita itu menjawab, “Allah.” “Lalu, siapa aku?” Tanya Rasulullah lagi. Wanita itu menjawab, “Engkau adalah Rasulullah.” Beliaupun bersabda, “Merdekakan dia. Karena dia adalah wanita mukminah
b. Mendoakan orang tua, membacakan shalawat dan memohonkan ampunan baginya.
Kita sebagai anak harusnya mendoakan, serta memohon ampunan untuknya, karena permohonan ampunan seorang anak merupakan perwujudan cinta kasih dan harapan seorang anak agar orang tuanya dapart berbahagia dan mendapatkan surganya Allah. sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh bnu Rabi’ah dan Abu Hurairah :
Saat kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah tiba-tiba datanglah seorang lelaki dari kalangan Bani Salamah bertanya, “Wahai Rasulullah! Apakah masih tersisa bakti kepada kedua orang tuaku setelah mereka meninggal dunia?” Rasulullah menjawab, “Ya. Bacakanlah sholawat untuk mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, tunaikan perjanjian mereka, peliharalah silaturahim yang biasa dipelihara kala mereka masih hidup, juga, hormati teman-teman mereka (Ibnu Rabi’ah)
Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya, Allah Azza wa Jalla bisa saja mengangkat derajat seorang hamba yang sholih di Surga kelak. Si hamba itu akan bertanya, “Ya Rabbi, bagaimana aku bisa mendapatkan derajat sehebat ini?” Allah berfirman, “Karena permohonan ampun dari anakmu Salah satu dari tanda cinta kasih kita kepada ibu adalah munculnya pengharapan agar si ibu selalu hidup berbahagia. Bila ia sudah meninggal dunia, kita juga senantiasa mendoakannya, membacakan shalawat untuknya serta memohonkan ampunan untuknya. Semua perbuatan tersebut bukanlah hal-hal yang remeh.(Abu Hurairah)
c .Memelihara hubungan baik, dengan teman dan kerabat orang tua.
Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang tetap ingin menjaga hubungan silaturahim dengan ayahnya yang sudah wafat, hendaknya ia menjaga hubungan baik dengan teman-teman ayahnya yang masih hidup
d. Melaksanakan beberapa ibadah untuk kebaikan orang tua.
Selain dari 3 hal diatas kita selaku seorang anak juga dapat melakukan ibadah untuk kebaiakan orang tua kita dengan berbuat baik kepada setiap orang dimana setiap perbuatan baik itu kita niatkan buat orang tua kita yang telah wafat.
Seperti hal nya saat seseorang bertanya kepada Rasulullah:
Saad bin Ubadah pernah bertanya, “Ibuku sudah meninggal dunia. Sedekah apa yang terbaik, yang bisa kulakukan untuknya?” Rasulullah r menjawab, “Air. Gali saja sumur. Lalu katakan: ‘pahala penggunaan sumur ini, untuk ibu Saad.
Atas dasar diataslah alasan mengapa kita selaku anak diwajibkan agar memperlakukan orang tua dengan penuh kasih sayang dan hormat karena perintah tersebut merupakan perbuatan yang teramat mulia dan hubungan perasaan kasih sayang dan hormat kepada orang tua memberikan makna yang sangat dalam kepada manusia didunia.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan :
Dari berbagai macam bentuk cinta kasih, cinta kasih kepada orang tua merupakan cinta yang mempunyai urutan ke 3 (tiga) setalah cinta kepada Allah SWT dan Rasulullah yang cinta tersbut sanagat berpengaruh terhadap ridhonya Allah SWT. Dan kita sebagai seorang anak walaupun kita mempunyai hak atas orang tua kita akan tetapi keawajiban kita untuk berbakti kepada orang tua lebih besar perbandingannya daripada hak kita, karena kasih sayang orang tua yang diberikannya sejak dalam kandungan hingga dewasa bahkan sampai wafat pun kasih sayang mereka tidak pudar kepada kita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Post Comment

Recent Comment